Anda bisa menyumpahi saya nanti. Namun, saya percaya bahwa beberapa orang memang ditakdirkan sebagai individu yang gagal—sampai ia mati.
Dimulai dari kelahiran yang tidak menguntungkan: katakanlah, di keluarga miskin di sebuah tempat antah berantah. Diikuti dengan genetik yang tidak mau berbaik hati memberikan sedikit saja keunggulan. Maksud saya, Anda tidak jarang melihat mereka yang memiliki kekurangan fisik lahir di keluarga yang miskin pula, 'kan?
Saat lebih besar, daftar kegagalan yang mereka alami lebih banyak lagi. Mereka tak mampu mendapat prestasi akademik, mereka gagal dalam hubungan pertemanan dan percintaan, keuangan mereka tetap berada di taraf rendah, dan mereka bahkan tak berani bermimpi sebab tahu bahwa mereka akan gagal lagi.
Mereka terus mencoba keluar dari jurang kegagalan, tetapi tidak pernah berhasil. Mereka terus dikalahkan oleh keadaan.
Pada akhirnya, mereka hanya menatap tembok yang dibangun di sekitar mereka, mengalah, menerima bagaimana kehidupan terus mempecundangi mereka, menunggu titik kehancuran tiba.
Apa yang tidak begitu ironis adalah—saya termasuk salah satu dari mereka.
Saya adalah epitome dari kegagalan itu sendiri. Gagal sebagai teman. Gagal sebagai anak. Gagal sebagai siswa. Gagal sebagai warga negara. Gagal sebagai umat agama. Gagal dalam kehidupan seutuhnya.
Apa yang saya lakukan dalam hidup, segalanya, tak ada yang berguna, tak ada yang bermakna.
Namun, saya bisa apa?
Saya tak punya pilihan lain selain memperlakukan kegagalan sebagai sepotong kue dengan krim tebal dan badam bertaburan yang akan membuat saya sakit jika saya jejalkan ke mulut saya lebih dari satu suap. Namun, saya tetap makan sedikit demi sedikit. Saya nikmati dengan teh lemon yang hangat dan menenangkan sampai habis tak bersisa. Sampai mulut saya kebas, sampai perut saya meledak, sampai saya mati karena tubuh saya tak mampu menahannya lagi.
I treat failure just like I treat my cake. I eat them whole and left no crumbs.- entitas nirmakna (Dian Agustini)







0 comments:
Post a Comment